Isnin, 25 Oktober 2010

Umar Bin Khattab dan Seorang Yahudi Tua

Sejak menjabat gubernur, Amr bin Ash tidak lagi pergi ke medan tempur. Dia lebih sering tinggal di istana. Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua.
“Alangkah indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah mesjid,” gumam sang gubernur.

Singkat kata, Yahudi tua itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi. Amr bin Ash sangat kesal karena si kakek itu menolak untuk menjual tanah dan gubuknya meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran.

“Baiklah bila itu keputusanmu. Saya harap Anda tidak menyesal!” ancam sang gubernur.

Sepeninggal Yahudi tua itu, Amr bin Ash memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran. Sementara si kakek tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dalam keputusannya terbetiklah niat untuk mengadukan kesewenang- wenangan gubernur Mesir itu pada Khalifah Umar bin Khattab.

“Ada perlu apa kakek, jauh-jauh dari Mesir datang ke sini?” tanya Umar bin Khattab. Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang khalifah yang tinggi besar dan full wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya. Padahal penampilan khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas. Dia ceritakan pula bagaimana perjuangannya untuk memiliki rumah itu.

Merah padam wajah Umar begitu mendengar penuturan orang tua itu.
“Masya Allah, kurang ajar sekali Amr!” kecam Umar.
“Sungguh Tuan, saya tidak mengada-ada,” si kakek itu semakin gemetar dan kebingungan. Dan ia semakin bingung ketika Umar memintanya mengambil sepotong tulang, lalu menggores tulang itu dengan pedangnya.

“Berikan tulang ini pada gubernurku, saudara Amr bin Ash di Mesir,” kata sang Khalifah, Al Faruq, Umar bin Khattab.

Si Yahudi itu semakin kebingungan, “Tuan, apakah Tuan tidak sedang mempermainkan saya!” ujar Yahudi itu pelan.

Dia cemas dan mulai berpikir yang tidak-tidak.Jangan-jangan khalifah dan gubernur setali tiga uang, pikirnya. Di manapun, mereka yang mayoritas dan memegang kendali pasti akan menindas kelompok minoritas, begitu pikir si kakek. Bisa jadi dirinya malah akan ditangkap dan dituduh subversif.

Yahudi itu semakin tidak mengerti ketika bertemu kembali dengan Gubernur Amr bin Ash. “Bongkar masjid itu!” teriak Amr bin Ash gemetar. Wajahnya pucat dilanda ketakutan yang amat sangat. Yahudi itu berlari keluar menuju gubuk reyotnya untuk membuktikan sesungguhan perintah gubernur. Benar saja, sejumlah orang sudah bersiap-siap menghancurkan masjid megah yang sudah hampir jadi itu.

“Tunggu!” teriak sang kakek. “Maaf, Tuan Gubernur, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sampai-sampai Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini. Sungguh saya tidak mengerti!” Amr bin Ash memegang pundak si kakek, “Wahai kakek, tulang itu hanyalah tulang biasa, baunya pun busuk.”
“Tapi…..” sela si kakek.

“Karena berisi perintah khalifah, tulang itu menjadi sangat berarti.
Ketahuilah, tulang nan busuk itu adalah peringatan bahwa berapa pun tingginya kekuasaan seseorang, ia akan menjadi tulang yang busuk. Sedangkah huruf alif yang digores, itu artinya kita harus adil baik ke atas maupun ke bawah. Lurus seperti huruf alif. Dan bila saya tidak mampu menegakkan keadilan, khalifah tidak segan-segan memenggal kepala saya!” jelas sang gubernur.

“Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh, saya rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Dan bimbinglah saya dalam memahami ajaran Islam!” tutur si kakek itu dengan mata berkaca-kaca.

Ahad, 24 Oktober 2010

Memuliakan tetamu(http://ii.islam.gov.my/hadith/hadith1.asp?keyID=782)

Hadith :
Dari abu Hurairah r.a katanya:”Rasulullah SAW bersabda:” Sesiapa yang beriman dengan Allah dan hari kiamat, maka janganlah dia menyakiti tetangganya. Dan sesiapa yang beriman dengan Allah dan hari kiamat, hendaklah dia memuliakan tetamunya. Dan sesiapa yang beriman dengan Allah dan hari kiamat, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”
(Muslim)

Huraian
Tetamu, secara pasti datang dengan maksud dan tujuan tertentu. Dalam konteks inilah Allah dengan tegas membuat pertimbangan yang begitu besar agar memuliakan tetamu dan meletakkan nilainya sama dengan Beriman Kepada Allah dan Hari Kemudian (kiamat). Dengan perkataan lain seseorang itu belum disebut beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, selama ia tidak memuliakan tetamunya. Oleh itu apabila tetamu datang, bagaimana pun bentuk dan rupa tetamu itu, sama ada kaya, miskin, Islam ataupun kafir, Allah memerintahkan kita agar memuliakan mereka. Pernah diriwayatkan bahawa Nabi Sulaiman a.s pernah ditegur oleh Allah SWT, kerana pada saat baginda didatangi seorang tetamu dari kaum kafir, baginda tidak sepenuh hati memuliakan tetamunya itu. Baginda merasa tidak perlu memuliakan dan menghargai tetamunya seperti baginda memuliakan dan menghargai tetamunya dari sesama pengikutnya. ‘Disebabkan ia bukan umatku yang beriman’, begitulah fikir Nabi Sulaiman. Lantas baginda hanya memberinya minum dan bercakap seadanya. Setelah tetamu itu pulang, datanglah malaikat Jibril a.s menyampaikan teguran Allah: "Wahai Nabi Allah, Allah menegurmu, mengapa engkau perlakukan tetamu seperti itu ? Jawab nabi Sulaiman:”Bukankah dia (tetamu itu) dari golongan kafir?" Jibril bertanya:"Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ini?" "Allah!" Jawab Nabi Sulaiman penuh yakin. "Siapakah yang menciptakan malaikat, jin dan manusia?" "Allah!" "Siapakah yang menciptakan tumbuh-tumbuhan dan haiwan-haiwan?" "Allah!" "Siapakah yang menciptakan orang kafir itu?" "Allah!"
"Lalu, berhakkah engkau berlaku tidak adil terhadap ciptaan Allah? Sementara Allah adalah zat Yang Maha Adil?" Nabi Sulaiman a.s terdiam dan terus bersujud.
"Ya, Allah! Ampunilah hamba-Mu yang telah berbuat zalim ini." Kemudian malaikat Jibril menyampaikan wahyu Allah:”Wahai nabi Allah, datangilah dan pohonlah kemaafan kepada orang itu. Ampunan Allah tergantung daripada kemaafannya.". Bergegaslah Nabi Sulaiman mencari tetamunya tadi. Setelah bertanya ke sana ke mari dan mencari-cari, ternyata, tetamunya itu sudah jauh berjalan meninggalkan kota. Nabi Sulaiman a.s dengan pantas mengejar tetamunya itu. Setelah bertemu, dan dengan nafas yang masih termengah-mengah, baginda berkata: "Saudara, tunggu...!" Tetamu tadi menoleh dan hairan melihat keadaan Nabi Sulaiman. "Kenapa?" "Saudara... sudikah engkau memaafkan perlakuan saya , ketika mana saudara menjadi tetamu di rumah saya tadi?" Orang itu diam. Dalam hatinya, sebenarnya dia merasa wajar diperlakukan seperti itu, kerana dia memang bukan termasuk di dalam golongan pengikut Nabi Sulaiman. Dia tidak menerima ajaran Tauhid yang dibawa oleh baginda. Tetapi dia terus juga bertanya: "Kenapa, wahai Sulaiman?" "Allah menegurku, setelah engkau pulang dari kediamanku."
"Allah? Siapakah dia?" Tetamu itu bertanya. "Allah adalah Tuhan, Tuhan Kami dan Tuhan Engkau, Yang menciptakan langit dan bumi, dan semua isinya. Dia yang menciptakan malaikat, jin dan manusia. Dia Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya."
"Lalu, kenapa Dia menegurmu?" "Allah menegurku, kerana aku sudah tidak berlaku adil terhadapmu. Aku tidak memuliakanmu. Allah yang Maha Kuasa selalu bersifat adil terhadap semua hamba dan ciptaan-Nya, mengapa aku berlaku tidak adil terhadapmu?"
"Sebegitukah Tuhanmu wahai Sulaiman, memperlakukan aku, walaupun aku bukan dari golonganmu?" Tetamu itu bertanya penuh taajub ."Iya...! Maafkan sikapku tadi wahai saudara, ampunan Allah tergantung dengan kemaafanmu" Nabi Sulaiman meminta.
"Saksikanlah, wahai Sulaiman! Asyhadu alla ilaa ha illallah, Wa anta Rasulullah!" Orang itu memeluk nabi Sulaiman a.s. Nabi Sulaiman pun memeluk tetamunya itu dengan penuh rasa terharu.

Selasa, 17 Ogos 2010

R.A.M.A.D.H.A.N

Bismillahirrahmanirrahim

Salam ukhuwah,
"Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa." (S.al-Baqarah:183)

Alhamdulillah..hari ini genaplah hari ke-7 kita menunaikan ibadat puasa yg merupakan asas daripada rukun islam. Puasa ertinya menahan diri, dan pada syarak maksudnya menahan diri daripada segala yang membatalkan puasa, mulai dari masa terbit fajar hingga tenggelam matahari disertakan dengan niat. Puasa di bulan Ramadhan adalah mengenai iman dan taqwa seperti yang disebutkan pada permulaan dan pengakhiran ayat 183 dari surah al-Baqarah. Iman dan taqwa bukanlah boleh diwarisi, bukan juga dijual beli, tetapi berada di sanubari. Kita lah yang membentuknya, kita lah yang mendidiknya, insyaAllah kita lah jua yang akan memilikinya. Akan tetapi, berimankah atau bertaqwakah kita?

Disebutkan dalam al-Qur'an, bahawa Tuhan menyeru orang yang beriman agar mencapai darjat ketaqwaan. Ini kerana, orang yang beriman, belum tentu dapat mencapai darjat ketaqwaan. Tapi, orang yang bertaqwa, sudah pastilah mereka beriman.

"Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan janganlah kamu mati melainkan berada dalam Islam."
(Ali Imran: 102)

Juga kepada orang yang beriman itu, Allah s.w.t meminta mereka bertaqwa dengan cara menyatakan perkara yang benar walaupun pahit didengar. Ini kerana, orang yang beriman pun belum tentu dapat menyatakan perkara yang benar.

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, maka Allah memperbaiki bagi amalan-amalanmu, dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.."(Al-Ahzab: 70 - 71)

Kita seharusnya bersyukur berada dalam bulan Ramadhan yang penuh keberkatan ini kerana Allah memberi kita peluang untuk memperbaiki diri menjadi hambanya yang lebih beriman dan lebih bertaqwa dengan cara melatih diri dan menahan nafsu dari makan dan minum, mencampuri isteri, dan menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia seperti; berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, berburuk sangka dan melakukan maksiat.

Alangkah beruntungnya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan ramadhan ini, walaupun ada yang tewas dengan nafsunya dan tidak kurang pula yang beranggapan ibadat puasa hanya menahan diri dari makan dan minum sahaja. Bagaimana pula dengan diri kita?

Daripada Abu Hurairah r.a. katanya bahawa Nabi s.a.w. bersabda:
“Sesiapa yang tidak meninggalkan percakapan bohong dan berkelakuan buruk sedangkan ia berpuasa, baginya tidak ada kelebihan (pahala) di sisi Allah selain dari lapar dan dahaga sahaja yang didapatinya.”
(al-Bukhari)

Ramadhan mempunyai fadilat yang amat besar sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. dengan sabda baginda
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang bererti
:

"Sesungguhnya akan datang kepada kamu bulan Ramadhan bulan yang diberkati, Allah mewajibkan kamu berpuasa di dalamnya. Pada bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu syurga, dikunci semua pintu neraka, dibelenggu semua syaitan. Di malamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang tidak memperolehi kebajikan pada malam itu berertilah diharamkan baginya segala kebaikan untuk dirinya."

Rasulullah s.a.w. juga mengucapkan kepada para Sahabat ucapan yang bermaksud:

"Telah datang kepada kamu bulan Ramadhan Penghulu segala bulan , maka selamat datanglah kamu kepadaNya. Maka telah datang bulan puasa membawa segala macam keberkatan. Oleh yang demikian muliakan tetamu yang datang itu dengan seberapa baik."

Sebagai umat islam, kita digalakkan berusaha meninggkatkan amalan terutamanya di dalam bulan Ramadhan yang penuh keberkatan ini. Antaranya :
-menunaikan solat fardhu 5waktu sehari semalam,
-melakukan solat-solat sunat seperti terawikh, tahajjud, hajat dan witir.
-banyakkan mengingati Allah dengan cara membaca dan mentadabbur Al-Quran dan berzikir.
-bersedekah,
-berdoa dan memohon keampunan atas dosa-dosa lalu,
-menyampaikan syariat Islam
-mengeratkan silaturrahim tertutamanya ibu bapa dan keluarga.


Kita juga digalakkan bersahur seperti sabda Nabi yang bermaksud:

“Makanlah sahur, sekalipun dengan seteguk air.”
(Hadis riwayat Ibnu Hibban)

Waktu berbuka dan waktu sahur juga adalah salah satu waktu doa yang mustajab. Oleh yang demikian, maanfaatkanlah waktu bersahur dengan amalan-amalan sunat dan perbanyakkanlah doa memohon keampunan-Nya.

Bahawasanya bulan Ramadhan adalah bulan istimewa bulan yang penuh dengan keberkatan dan rahmat dari Allah s.w.t. Sebagai hambaNya,
hendaklah kita menyambut bulan puasa dengan cita-cita dan azam yang tinggi yang disertai dengan usaha untuk membanyakkan ibadah samada siang atau malam hari dengan niat ikhlas kerana Allah dan kemahuan hendak melatih diri serta mensucikan jiwa serta mengharap keredhaanNya.
Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan untuk menjadi hambaNya yang bukan sahaja beriman malahan bertaqwa. Maka janganlah kita sia-siakan bulan yang penuh berkat ini. Anggaplah bulan Ramadhan sebagai landasan kita untuk ke SyurgaNya dan amal ibadat sebagai tiketnya. Semoga Ramadhan kali ini lebih bermakna dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang lalu..aminn...

Rabu, 5 Mei 2010

‘Keenam’ Itu Urusan Islam

oleh Ust Hasrizal Abd Jamil

www.saifulislam.com


“Habis, sebenarnya benda ni al-Asmaa’ al-Khamsah atau al-Asmaa’ al-Sittah?” saya menggaru kepala.

“Ulama berbeza pendapat dalam hal ini,” kata Fazdi.

“Dalam Fiqh sudah ada banyak khilaf, dalam Bahasa Arab pun sama juga ya?” saya bertanya.

“Tentulah. Ada Mazhab Kufah, ada Mazhab Basrah” jawab cikgu Bahasa Arab kami itu.

Petang itu kami berbual-bual di halaman masjid selepas Solat Asar. Angin petang bertiup sepoi-sepoi bahasa membawa aroma padang pasir yang mendamaikan. Kami masih di awal perjalanan pengajian di bumi Mu’tah. Siang tadi, kelas Bahasa Arab 101 terisi dengan perbincangan berkenaan dengan sekumpulan 5 Ism yang dihukumkan Marfu’ dengan huruf Wau menggantikan Dhammah.

Tetapi apa yang uniknya ialah, sebahagian ulama’ menamakan rangkaian Ism itu sebagai ISM YANG LIMA (al-Asmaa’ al-Khamsah) manakala sebahagian yang lain pula menamakannya sebagai ISM YANG ENAM (al-Asmaa’ al-Sittah).

“Kata Dr. Yusuf al-Qammaz, selain perkataan Ab, Akh, Ham, Fu dan Dzu, perkataan yang keenam itu digugurkan atas pelbagai sebab. Kalimah keenam iaitu Hanu dicicirkan kerana maksudnya agak mengaibkan. Ia bermaksud kemaluan. Anggota sulit orang perempuan, juga lelaki” saya cuba mengingati kembali apa yang diajar di kelas.

Itulah penerangan yang diberikan oleh pensyarah kami di kelas tadi. Disebabkan oleh makna dan kaedah penggunaannya di dalam Bahasa Arab, hingga timbul khilaf pada melakukan I’rab dengan Harakat atau Huruf, maka Ulama’ Nahu juga berselisih pendapat pada memasuk atau mengecualikannya. Al-Farra’ dan al-Zajjaaji menggugurkannya, manakala Sibaweih pula menyertakannya.


BERSOPAN MALU DI DALAM ILMU

Namun apa yang lekat di kepala saya adalah suasana adab dalam majlis ilmu apabila perkataan sedemikian rupa disebut secara berlapik. Malah dengan justifikasi Ulama Nahu, ada yang sampai menggugurkan perkataan itu kerana penggunaannya yang tidak begitu diperlukan di dalam ayat-ayat Bahasa Arab.

Itulah sifat malu.

Mencegah daripada menyebut perkataan yang merujuk kepada anggota sulit berulang-ulang kali di dalam pengajian, bukan atas faktor-faktor yang negatif jika dinegatifkan, malah juga untuk ‘menghormati’nya. Menghormati dalam erti kata tidak melucahkan atau menjadikannya bahan senda gurauan manusia yang rendah akal.


MENGHORMATI SEKS DENGAN SIFAT MALU

Fahamkah masyarakat dengan persoalan ini jika perbuatan mencarut sudah menjadi kebiasaan?

Apatah lagi, apa yang dicarutkan itu adalah hakikatnya anggota sulit seorang wanita yang amat terhormat.

Di situlah bermulanya asal kejadian seorang manusia.

Di situ jugalah tempat berpindah seorang manusia daripada Alam Rahim ke Alam Dunia.

Kenapa dicarutkan ia?

Di suatu ketika, perbuatan mencarut dengan perkataan-perkataan yang menjadi kotor dan lucah itu adalah permainan bahasa manusia yang rendah akal. Mereka bergurau tentang faraj, tentang zakar, tentang seks dan menjadikannya sebagai gurauan harian hingga SEKS MENJADI MURAH. Malah tanpa disedari, apa yang diguraukan itu adalah hal yang bersangkutan dengan ibunya, isterinya, anak perempuannya, adik perempuannya dan ibu saudaranya.

Tetapi perbuatan melucahkan seks dan menjadikan ia bahan senda gurau, bukan lagi simbol rendah pendidikan atau taraf sosial, malah golongan cerdik pandai, doktor pakar dan tidak ketinggalan para agamawan, turut terbabit sama. Tatkala menyebut perkataan-perkataan kotor dan cela itu menjadi kebiasaan, ia sebenarnya menghakis rasa hormat kita kepada SEKS, malah kepada PERKAHWINAN dan INSTITUSI RUMAHTANGGA itu sendiri. Justeru tidak hairanlah pelbagai kepincangan berlaku akibat daripada pandangan yang begitu rendah oleh kita semua terhadap SEKS yang hakikatnya adalah IBADAH yang dimuliakan agama.

Agama memperkenalkan perkataan-perkataan yang mampu mengekalkan konotasi ilmu yang positif tatkala mengungkapkan tentang kemaluan lelaki dan perempuan di dalam pertuturan. Kalimah FARAJ dan ZAKAR boleh digunakan untuk tujuan-tujuan yang baik. Namun kalimah ini semakin asing di bibir dan telinga masyarakat kerana kata-kata gantinya lebih meniti di bibir sebagai gurau senda libido manusia yang dirasuk nafsu dan Syaitan.

Lebih teruk kita merendah-rendahkan SEKS, lebih liarlah seks itu terjadi. Semakin liar seks, semakin sukarlah kerukunan rumahtangga boleh dipelihara. Seks yang asalnya bertujuan menyalurkan naluri kemanusiaan berubah menjadi lempias kebinatangan.

Daripada Ibn Masoud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda: Sesungguhnya di antara perkara yang diketahui oleh sekalian manusia daripada kalam nukilan Kenabian ialah: Jika kamu sudah tiada rasa malu, maka buat sahajalah apa yang kamu suka! [Hadith riwayat al-Bukhari]

Seks lebih memberikan rasa bahagia, jika ia dihormati.

Seks adalah Ibadah.

Kelumpuhan iman, menjadikannya lucah.


ABU SAIF @ www.saifulislam.com
68000 AMPANG

Ahad, 25 April 2010

Biar Lambat Asalkan Mantap?


Kualitikah yang kita mahu? Atau kuantiti yang kita korbankan demi menjustifikasikan longlai dan lemah amal kita? Kadangkala kita melihat amal dakwah agak lemah. Di suatu tempat hanya ada beberapa kerat da'I dengan mad'u yang melambak-lambak. Di banyak tempat pula da'Inya lebih ramai dari mad'u. Apa yang telah terjadi sebenarnya? Kerap kali bila di tanya:

Kenapa tak agresifkan dakwah?
Kenapa tak lajukan?
Kenapa tak bertambah tambah?


Jawapan standard dan biasa ialah:
kita perlukan kualiti, bukannya kuantiti. Tak bacakah buku muntalaq, `fokus bukan meramaikan'? Yang penting kita membina orang yang bermutu, bukannya ramai…

Retorik dan kaedahnya betul. Tapi banyak yang perlu dihalusi. Dakwah, gerakan jahiliyyah, penggunaan masa dan fikiran kita, pen'takwinan' mad'u dll.

Adakah betul kita telah kehabisan tenaga demi untuk membina dan mentakwin orang yang telah menyerahkan diri untuk ditarbiyyah? Atau kita kehabisan stamina kerana kurang bergerak, sehingga kita tidak mampu bergerak lebih dari membawa satu group halaqah mingguan? Kerana kita terlalu ramaikah sehingga anak-anak mutarabbi kita tidak terjaga?

Jika mutarabbi kita telah mantap kita bina, kenapa mereka tidak mampu untuk membina anak-anak mutarabbi baru? Bagaimana nilai mutu mutarabbi kita jika mereka hanya berlegar di dalam bilangan yang sama selepas bertahun.

Jahiliyyah tidak pernah diam. Mereka bergerak siang dan malam. TV, radio, majalah, internet bergerak mencari `mad'u' baru mereka. Ini tidak lagi di kira penjual syabu dan wanita di tepian jalan. Mereka mendapat ratusan pelanggan baru pada setiap hari… Sedangkan kita masih ber'heppi' dengan angka satu grup usrah seminggu. Malah, kadangnya bolong..

Bila kelihatan ada orang yang agak laju bergerak, agresif kerja mentajmik dan men'takwin', kita kemungkinan juga memberi justifikasi untuk diri sendiri : buat apa laju-laju dan ramai, tapi tak tahan lama dan tak bermutu! Tapi apakah manusia yang kita bina tahan lama dan bermutu? apa ukuran laju dan lambat? Jika kita berjalan kaki, memang kita katakan kepada orang berbasikal itu laju. Tapi yang berbasikal sebenarnya masih lambat di bandingkan dengan yang berkereta atau ber'jet'. Jadi siapa yang merasai orang lain itu terlalu laju sebenarnya patut meneliti apa bandingan yang di pakainya. Jangan si pejalan kaki mengatakan yang berbasikal itu terlalu laju, sedangkan si berbasikal sebenarnya masih lambat dan slow berbanding jahiliyyah sekarang yang ber'jet' dan ber'roket'.



MOGA SLOWNYA KITA TIDAK MENJADI ALASAN UNTUK MARAH KEPADA SI LEBIH LAJU SEDIKIT DARI KITA YANG JUGA SEBENARNYA MASIH SLOW BERBANDING TUNTUTAN SEBENAR REALITI PERTARUNGAN SEMASA.


untuk Kita kepada KiTA...Jazakillah...

~kita hanyalah hamba~

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...