Rabu, 16 April 2014

Kenapa Ketika Kentut Yang Dibasuh Bukan Duburnya ?


Kenapa Ketika Kentut Yang Dibasuh Bukan Duburnya ?

Soal: Assalamu’alaikum, mau Tanya, kentut adalah salah satu perkara yang membatalkan wudhu, namun kenapa saat kentut yang dibasuh bukan tempat keluarnya? Mohon dijelaskan..

(Pertanyaan dari: Ragiel Benagung‎)

Jawab: wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh


Untuk menjawab pertanyaan diatas akan kami paparkan penjelasan dari Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawi yang menjelaskan mengenai hikmah dibalik hukum tersebut, dalam kitab beliau, Hikmah At-tasyri’ wa Falsafatuh, berikut penjelasan beliau:

“Mungkin ada orang yang menanyakan, mengapa saat buang angin (kentut) yang merupakan salah satu sebab batalnya wudhu yang dibasuh bukan anggota badan tempat keluarnya angin yang menjadi sebab wudhu harus diulangi lagi dengan cara ini, sedangkan yang dibasuh adalah anggota-anggota badan yang lain yang tak ada kaitannya dengan sebab batalnya wudhu.
Maka kami katakan; sesungguhnya angina yang keluar dari tempat tersebut sama sekali tak berpengaruh secara dhohir, sehingga bisa kita bisa mengatakan bahwa bekasnya telah hilang ketika dibasuh. Selain itu bagian keluarnya angina tersebut tidak termasuk bagian-bagian yang biasa dilihat, sehingga perlu dibasuh, sebagaimana anggota-anggota tubuh yang dibasuh saat wudhu.

Hanya saja ketika angina tersebut keluar anggota badan terasa lemas disertai dengan adanya bau yang tidak sedap, maka anggota-anggota badan yang dibasuh ketika wudhu yang dibasuh dengan tujuan untuk menghilangkan kemalasan yang ditimbulkan keluarnya angina tersebut. Yang dibasuh bukan anggota tubuh tempat keluarnya angina tersebut sebab anggota tubuh tersebuh ketika dibasuh atau diusah tidak menjadikan pulihnya semangat dan hilangnya lemas yang dirasakan.

Hal diatas jika dilihat dari sudut pandang wudhu sebagai cara untuk menghilangkan kotoran yang nampak (najasah mahsusah) dan hal lain yang berkaitan hukumnya dengan itu.

Sedangkan dipandang dari segi hukum yang berkaitan dengan menghilangkan kotoran yang tidak nampak (najis maknawiyah); ketika angin tersebut keluar dari dalam tubuh, hal tersebut sama saja dengan keluarnya penyakit dari manusia jika tertahan didalam tubuh aakan sangat membahayakan manusia, jadi keluarnya angina tersebut merupakan obat dari penyakit tersebut. Dari sudut pandang inidisyariatkannya wudhu dengan cara ini merupakan wujud syukur kepada Allah ta’ala yang telah memberi kenikmatan berupa keluarnya angina tersebut.”

Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh: Siroj Munir)

Jumaat, 11 April 2014

Fiqh Kontemporer : Cara Memusnahkan Mushaf Al-Qur’an Yang Rosak

Cara Memusnahkan Mushaf Al-Qur’an Yang Rosak

Menurut Prof. DR. H. Ahmad Zahro, M.A.
Cara Memusnahkan Mushaf Al-Qur’an Yang Rusak
     Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam yang diterima oleh Rosulullah SAW dari Allah SWT melalui malaikat Jibril AS dan sampai kepada umat islam secara mutawatir (aklamatif). Semula kalam Allah SWT dalam al-Qur’an berupa bahasa arab lisan kemudian Rasulullah SAW menyuruh beberapa sahabat untuk menuliskannya dimedia tulis yang ada pada waktu itu, seperti pelepah kurma, batu, kulit atau tulang binatang dan lain-lain, namun tidak tertata rapi melainkan berpencar di masing-masing sahabat yang menulisnya.
Tetapi Rasulullah SAW sendiri dan banyak sahabat yang hafal seluruh al-Qur’an. Pada zaman Abu Bakar RA tulisan-tulisan al-Qur’an yang masih berserakan itu dikumpulkan menjadi onggokan-onggokan yang berisi  al-Qur’an secara lengkap. Kemudian pada zaman Usman RA tulisan al-Qur’an di onggokan tersebut dipindahkan total dengan menulis ulang dilembaran kertas dari cina, menjadi lembaran-lembaran (mush-chaf) al-Qur’an dan terkenal dengan mush-chaf al-Imam (mush-chaf induk). Semua tulisan al-Qur’an selain mush-chaf al-Imam dimusnahkan, bahkan diawal pemerintahan Daulah Bani Umaiyyah (pada zaman Marwan bin Hakam) onggokan al-Qur’an zaman Abu Bakar juga dimusnahkan dengan cara membakarnya, dengan alasan agar tidak lagi terjadi  macam-macam model penulisan dan pembacaan yang menimbulkan khilafiyah yang tajam.
     Dari mush-chaf al-Imam itulah kemudian dinukilkan secara cermat dan persis ke dalam milyaran mush-chaf al_qur’an yang tersebar diseluruh dunia Islam (yang kemudian popular dengan mushchaf Usmaniy dikalangan Sunniy, dan mushchaf Aliy di kalangan Syi’iy). Perlu ditegaskan disini, bahwa yang disebut al-Qur’an adalah isinya, sedang lembar-lembar kertasnya disebut mushchaf. Jumhur Fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) sepakat bahwa orang yang berhadas kecil apalagi berhadas besar hukumnya haram menyentuh mushchaf al-Qur’an. Hal ini didasarkan pada makna firman Allah SWT: “Sungguh al-Qur’an ini adalah bacaan yang mulia. Pada kitab yang terpelihara. Tidak boleh menyentuhnya kecuali mereka suci (dari hadas kecil dan besar)” (al—Waqiah ayat 77-79).
     Oleh karena mushchaf al-Qur’an ini adanya beberapa tahun sesudah Nabi SAW (zaman beliau belum ada mushchaf) maka keseluruhan pendapat tentang mushchaf al-Qur’an ini adalah ijtihadiy (produk pemikiran ulama) yang kemudian menjadi kesepakatan umat islam. Ada beberapa hal yang disepakati oleh para ulama al-Qur’an terkait dengan tata kerama dan penghormatan (bukan pengkultusan) kepada mushchaf al-Qur’an, antara lain:

  1. Hanya umat islam yang boleh menyentuh dan memegang mushchaf al-Qur’an; non muslim tidak diperbolehkan
  2. Hanya umat islam yang suci dari hadas besar dan hadas kecil yang boleh menyentuh dan memegang mushchaf al-Qur’an, kecuali dalam keadaan darurat
  3. Tidak boleh membawa mushchaf al-Qur’an dengan posisi dibawah pusar
  4. tidak boleh menaruh mushchaf al-Qur’an ditempat rendah yan tidak terpelihara
  5. Tidak boleh menaruh benda apapun diatas mushchaf al-Qur’an
  6. Tidak boleh merusak atau membakar mushchaf alQur’an yang masih utuh
  7. Tidak boleh melakukan tindakan yang bernuansa menghina mushchaf al-Qur’an, seperti menginjak, meludahinya, apalagi mengencinginya.
     Nah bagaimana dengan mushchaf al-Qur’an yang rusak (karena terlalu tua usianya/tidak terawat) atau sobek-sobek. Apakah kita harus tetap merawat mushchaf al-Qur’an yang rusak itu, membakarnya, ataukah memendamnya.
     Pada zaman Usman RA pernah terjadi  pembakaran lembaran-lembaran al-Qur’am selain mushchaf al-Imam (waktu itu hanya ada enam eksemplar), begitu juga pada zaman Marwan bin Hakam terjadi pembakaran onggokan al-Qur’an yang dikumpulkan pada zaman Abu Bakar. Pembakaran dilatarbelakangi keinginan agar tidak terjadi perbedaan yang tajam antara umat islam dalam hal penulisan dan pembacaan al-Qur’an. Sehingga dari kejadian tersebut, maka jika terdapat lembar-lembar al-Qur’an yang rusak atau sobek-sobek, cara terbaik adalah membakarnya sehingga tak berbekas lagi; bukan memendamnya karena kalau hanya dengan memendamnya tulisan al-Qur’an yang ada akan lama hilangnya; bukan pula menyimpannya di gudang karena terkesan menyia-nyiakan dan lagi tulisannya masih ada tetapi tidak akan dibaca untuk selamanya.
     Tetapi pemusnakan mushchaf al-Qur’an dengan pembakaran ini jangan dijadikan dasar pembenaran bagi apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir diamerika beberapa waktu yang lalu. Tindaka mereka membakar mushchaf al-Qur’an jelas-jelas dimaksudkan sebagai tindakan balas dendam dan pelecehan terhadap umat islam dan isi ajaran al-Qur’an yang mereka tuduh sebagai biang dari terorisme, suatu anggapan bodoh dan sesat menyesatkan. Jangankan membakar mushchaf al-Qur’an dengan tujuan jahat seperti itu, sedang umat islam sendiri juga diharamkan membakarnya apabila mushchaf al-Qur’an tersebut masih utuh dan dapat dipergunakan.
     Mushchaf al-Qur’an, disamping sebagai kitab suci yang berisi firman Allah SWT, juga merupakan salah satu simbol kehormatan umat islam, sehingga mushchaf al-Qur’an amat dihormati sampai-sampai amat banyak umat islam yang menjadikan mushchaf al-Qur’an sebagai “media” angkat sumpah dengan memposisikan diatas kepala orang yang sedang disumpah. Walaupun secara tekstual tidak ada dalil yang dapat dijadikan rujukannya, tetapi kesepakatan umat islam cukuplah menjadi alasan. Hal ini dapat didasarkan pada kaidah ushul fiqih: “al-Aadah muchakkamah” (kebiasaan baik umat islam itu dapat menjadi dasar pertimbangan penetapan hukum).
Wallaahu a’lam

Jumaat, 28 Mac 2014

Perbezaan itu rahmat, perpecahan itu azab

 

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

"Ikhtilaf" atau berbeza pendapat dalam berbagai masalah agama adalah sesuatu yang wajar bahkan dalam keadaan tertentu menjadi suatu kemestian.

Ini adalah kerana manusia memang diciptakan berbeza-beza bahkan tidak keterlaluan jika dikatakan bahwa beberapa "perbezaan" itu memang dimaksudkan atau diinginkan oleh Pembuat Syariat iaitu Allah swt.

Jika Allah swt berkehendak untuk menurunkan Al-Qur'an dengan hanya memiliki satu interpretasi sahaja, maka perkara itu tidak sukar bagiNya. Begitu juga dengan Sunnah Rasulullah saw. Bahkan telah masyhur di kalangan ulama' bahwa perbezaan dalam umat ini adalah rahmat.

Seorang ulama' pernah menulis sebuah kitab dengan judul "Kitabul Ikhtilaf" (kitab perbezaan pendapat).

Ketika ia menunjukkan kitab itu kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, beliau berkata :

"Jangan namakan kitab perbezaan pendapat, tapi namakan ia kitab keluasan."

Adalah sesuatu yang mustahil untuk menyatukan seluruh manusia dalam satu pandangan atau pemikiran tertentu kerana masing-masing mereka dianugerahkan oleh Allah swt perbezaan dalam:

1.    Pandangan.

2.    Ilmu.

3.    Tujuan.

4.    Keperluan.

5.    Situasi.

6.    Keadaan lingkungan.

yang sangat berpengaruh terhadap paradigma dan cara mereka berfikir.

Ini memang suatu kenyataan apabila kita melihat keadaan umat Islam di berbagai negara yang memang berlatarbelakangkan suku, adat istiadat dan bahasa yang berbeza-beza, ditambah pula dengan wujudnya kelompok-kelompok Islam yang berbagai ragam.

Sayangnya, kelompok-kelompok Islam tersebut sangat sukar untuk bersatu dan sangat suka berpecah belah hanya kerana perbezaan dalam perkara-perkara yang bukan termasuk  "Tsawabit"  agama (ajaran yang mempunyai sifat atau unsur yang tetap dan tidak berubah).

Padahal perbezaan-perbezaan tersebut bukanlah menjadi alasan untuk bersengketa atau berpecah-belah.

Allah swt tidak melarang berbeza pendapat sejak dari awal lagi tetapi melarang berpecah-belah gara-gara perbezaan pendapat tersebut.

Ulama'-ulama' terdahulu sejak zaman sahabat, mereka berbeza dalam beberapa masalah namun mereka tetap terikat oleh tali Ukhuwah Islamiyah.

Perbezaan-perbezaan tersebut jika tidak ditangani dengan benar, kadang-kadang boleh menyebabkan muslim sesama sendiri :

  1. Saling mencela.

  2. Saling menyesatkan.

  3. Mungkin saling mengkafirkan.

Kita sering lupa bahwa kehormatan kaum muslimin adalah perkara yang amat dimuliakan di dalam Islam bahkan ia merupakan salah satu 'maqashid' (tujuan) agama ini iaitu memelihara kehormatan.

Ketika haji Wada`, Rasulullah saw bersabda :

"Sesunguhnya jiwa kamu, harta kamu dan kehormatan kamu haram (dinodai dan diganggu) seperti haramnya kehormatan hari ini, bulan ini dan tempat ini."

Namun gara-gara perbezaan yang sifatnya 'ijtihadiyah', kaum muslimin saling mencela dan menodai kehormatan sesama mereka.

Kita lupa pesanan Allah swt yang memerintahkan untuk berpegang teguh pada tali Allah dan melarang kita berpecah belah.

Allah swt berfirman :

"Dan berpegang teguhlah kamu pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah belah...." (QS Ali Imran : 103)

DI MANAKAH KITA MESTI SEKATA DAN DI MANA BOLEH BERBEZA?

Memang benar bahwa perbezaan mesti ditangani dengan sikap toleransi yang tinggi tetapi perbezaan yang dibenarkan adalah perbezaan yang memang boleh ditoleransi.

Untuk mengetahui samada sebuah perbezaan boleh ditoleransi atau tidak, perlu ada kejelasan terhadap kedudukan di mana letaknya umat Islam mesti bersatu dan di mana letaknya mereka boleh berbeza.

Ada dua wilayah perbezaan yang boleh kita teliti :

PERTAMA : Berbeza pada wilayah yang prinsip atau pokok-pokok agama yang merupakan asas-asas  dan pokok-pokok ajaran yang bersumber dari Al-Quran, Sunnah dan Ijma` umat.

Contohnya seperti :

1.    Masalah tauhid.

2.    Rukun iman.

3.    Kewajiban melaksanakan rukun Islam yang lima.

4.    Keyakinan tentang hari kebangkitan.

5.    Hari Akhirat.

Dalam hal ini, tidak boleh ada perbezaan di dalam tubuh Umat Islam kerana perbezaan dalam perkara ini akan menimbulkan perbezaan prinsip dan keyakinan yang mengakibatkan keluarnya seseorang dari jalan Islam.

Jika ada orang yang berkeyakinan bahwa rukun Islam yang lima tidak wajib dilaksanakan atau meyakini bahwa hari Akhirat itu tidak ada, keterangan-keterangan yang terdapat di dalam Al-Quran dan Hadits tentang hari Akhirat, padang Mahsyar, syurga dan neraka, tidak lain hanyalah kiasan dan tidak dimaksudkan dengan makna hakiki dari lafaz itu, seperti yang diyakini oleh kumpulan-kumpulan sesat seperti Batiniyah, Babiyah dan Bahai'yah, maka keyakinan seperti itu telah jauh terkeluar dari Islam.

Demikian juga dengan orang yang berkeyakinan bahwa ada nabi setelah Nabi Muhammad saw, yang membawa kitab suci baru, seperti keyakinan pengikut Ahmadiyah, maka keyakinan seperti itu juga dapat menyebabkan seseorang terkeluar dari Islam kerana keyakinan-keyakinan itu bukanlah perbezaan pada perkara furu`atau ranting bahkan ia jelas bertentangan secara langsung dengan asas-asas agama yang sifatnya 'fundamental' tersebut.

Bagi menangani perbezaan seperti di atas, setiap muslim mesti menampakkan identiti keyakinan dan keimanan mereka di mana mereka mesti tegas dengan mengatakan :

" Mazhab kami benar, tidak mengandungi kesalahan sama sekali dan mazhab yang lain salah dan tidak mengandungi kebenaran sama sekali."

KEDUA : Perbezaan dalam masalah furu`atau ranting di mana perbezaan dalam perkara ini adalah wajar dan masing-masing mengikut pendapat yang seharusnya saling bertoleransi.

Namun, perbezaan dalam wilayah yang kedua ini tidak boleh membawa umat kepada perpecahan kerana perbezaan yang timbul dalam hal ini boleh jadi sekadar perbezaan 'variatif' yang semuanya benar dan saling melengkapi. Bahkan dalam perbezaan kontradiktif sekalipun, selagi mana masih dalam wilayah furu' dan ijtihadiyah dan masing-masing memiliki perbahasan yang cukup kuat, maka para penganut mazhab mesti tetap saling menghormati dan mencintai.

Dalam hal ini mereka seharusnya berkata seperti perkataan Imam Asy-Syafi`ie :

"Pendapatku benar tetapi boleh jadi mengandungi kesalahan dan pendapat selainku salah tetapi boleh jadi mengandungi kebenaran."

Berbeza pendapat adalah perkara yang diperbolehkan, namun perpecahan kerananya tetap tidak diperbolehkan. Ini adalah kerana perpecahan jelas merupakan perkara yang dilarang oleh agama.

Sebagai contoh, perbezaan-perbezaan manhaj atau metod dakwah yang digunakan oleh  kelompok Islam masing-masing seringkali menjadi penyebab kepada perpecahan di antara mereka padahal mereka tidak berbeza pada asas-asas 'fundamental' dan pokok-pokok ajaran yang bersumber dari Al-Quran, Sunnah dan Ijma` Umat.

Mereka seharusnya berusaha untuk saling mendekati kerana perbezaan mereka hanya sebatas perbezaan dalam metod berdakwah yang sifatnya ijtihadi.

Ada sebahagian kelompok umat :

1.    Yang berdakwah dengan amar makruf nahi mungkar.

2.    Yang berdakwah dengan memurnikan ajaran tauhid.

3.    Yang berjihad secara langsung melawan musuh-musuh Islam.

4.    Yang berjuang dengan mengajar dan memberi pencerahan kepada umat.

5.    Yang berjihad dengan lisan dan tulisan.

6.    Yang berjihad dengan menuntut ilmu.

7.    Yang berjihad dengan hartanya.

Semuanya pada hakikatnya saling melengkapi kerana tidak mungkin satu kelompok dapat menjaga semua pos yang berusaha dijaga oleh kelompok lain.

Ukhuwah terlalu besar untuk dirosak dan dimusnahkan oleh masalah khilafiah dan ijtihadiyah.

Ukhuwah adalah perkara yang wajib dijaga sedangkan perpecahan terang-terang diharamkan oleh agama.

Lantas apakah kita akan meninggalkan perkara yang wajib lalu mengerjakan yang diharamkan?

Setiap mujtahid mendapat pahala ijtihadnya kerana mereka berijtihad untuk menggali suatu hukum, tidak semata-mata untuk mengikuti hawa nafsu belaka tetapi hanya untuk mencari kebenaran. Kemudian, setiap orang yang mengikuti pendapat salah satu imam mazhab, semuanya bermaksud untuk mentaati Allah swt dan mengikuti Rasulullah saw. Mereka juga hanya diwajibkan untuk beramal dengan hasil yang dicapai oleh ijtihad mereka.

Contoh tauladan kita adalah generasi awal umat ini yang dibina secara langsung oleh Rasulullah saw. Sebahagian mereka ada yang berbeza pendapat dalam masalah-masalah fiqh, namun hati mereka tetap satu, tidak saling berpecah atau membenci.

PERBINCANGAN DALAM BINGKAI UKHUWAH

Kemestian berbeza pendapat tidaklah mencegah umat Islam untuk mengadakan perbincangan ilmiah dalam berbagai masalah yang mereka perdebatkan. Perkara ini justeru sangat positif kerana dapat mengurangkan sikap fanatik terhadap mazhab atau golongan tertentu.

Dengan kajian yang mendalam terhadap dalil dan analisa ketepatannya, kita mampu membuat perbandingan antara banyak pendapat dan sebagainya, maka setidak-tidaknya kita akan sampai kepada pendapat yang benar atau secara minimanya kepada pendapat yang paling kuat.

Yang paling penting dalam perbincangan ini adalah :

1.    Keikhlasan untuk mencari kebenaran.

2.    Tidak ada kecenderungan atau kepentingan apapun selain dari di atas.

3.    Mesti berdasarkan kaedah saling nasiat-menasihati dan musyawarah.

4.    Tetap berada di bawah payung ukhuwah serta rasa saling mencintai.

Kalaupun berlaku perdebatan, ia bukanlah debat untuk memenangkan kepentingan peribadi atau golongan kerana perdebatan seperti itu boleh membutakan hati sehingga kita tidak dapat melihat kebenaran.

Perdebatan ini tidak akan membuahkan hasil apalagi menyelesaikan masalah, bahkan akan menjadi masalah itu sendiri dan merumitkan masalah yang telah ada.

Ketika perbincangan ilmiah telah sampai kepada sebuah pendapat yang terang kebenarannya, maka semua umat mesti bersatu dalam perkara itu.

Ini adalah kerana Allah swt tidak sekadar melarang berpecah-belah, tetapi juga melarang untuk tetap berselisih pendapat sesudah datangnya keterangan dan perbahasan yang jelas atas pendapat yang benar.

Allah swt berfirman :

"Dan janganlah kamu seperti orang yang berpecah-belah dan berselisih, padahal sudah datang kepada mereka keterangan yang nyata." (QS Ali Imran : 105)

Jadi, perbezaan pendapat sebenarnya hanya boleh dalam perkara-perkara ijtihadiyah yang memang belum ada dalil tegas yang menyelesaikan perbezaan yang ada dan kewajiban kaum muslimin ketika itu adalah tetap toleransi dan saling mencintai.

Namun jika dalil telah jelas dan tegas, maka dalam hal ini Allah melarang kita untuk berbeza kerana tidak ada ijtihad dalam perkara yang sudah jelas dan tegas dalilnya.

Nubuwwah Rasulullah saw menjelaskan bahwa akan berlaku di tubuh umat ini banyak :

1.    Kemaksiatan.

2.    Kezaliman.

3.    Penyimpangan.

4.    Kesesatan.

5.    Perpecahan.

Tapi, apakah kita mahu menjadi :

1.    Orang yang bermaksiat?

2.    Orang yang berbuat zalim?

3.    Orang yang menyimpang?

4.    Orang yang sesat?

5.    Orang yang berpecah belah?

Mengapa kita tidak berusaha untuk :

1.    Membersihkan hati kita.

2.    Menjalankan ketaatan.

3.    Melaksanakan perintah Allah dan RasulNya.

4.    Berlaku lurus dan adil.

5.    Berusaha menjalankan kewajiban mencintai kaum muslimin.

6.    Menjadi orang yang tetap melakukan usaha menyatukan kaum muslimin.

Sungguh, hidup ini :

  1. Terlalu mahal untuk dibayar dengan perpecahan dan perselisihan.

  2. Terlalu sempit untuk dipenuhi oleh rasa saling benci.

  3. Terlalu singkat untuk dihabiskan dengan perdebatan yang tidak bermanfaat.

Alangkah indahnya jika hidup yang mahal ini kita tebus dengan persatuan yang berlandaskan :

1.    Semangat ukhuwah yang tinggi.

2.    Saling cinta-mencintai.

3.    Manifestasi dengan amalan-amalan yang bermanfaat bagi masa depan dunia dan akhirat.

Ya Allah, satukanlah hati-hati kami di atas DeenMu yang lurus. Tautkanlah ia dengan semangat ukhuwah yang menyala. Janganlah engkau jadikan perbezaan di kalangan kami sebagai sebab kepada perselisihan dan perpecahan . Hindarkanlah hati kami dari perasaan kedengkian sesama saudara kami serta limpahkanlah perasaan saling cinta mencintai antara sesama kami.

Ahad, 23 Mac 2014

Hikmah Melihat Orang Yang Disayangi Ketika Tidur

Renungkan/lihatlah betapa sayangnya kita pada mereka…
Pernahkah anda menatap orang-orang yang anda sayang saat mereka sedang tidur? Kalau belum, cubalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun akan tampak polos dan jauh berbeza jika ia sedang tidur.

Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sedarilah, betapa badan yang dulu kuat dan gagah itu kini semakin tua dan lemah, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.
Sekarang, beralihlah….Lihatlah ibu anda…Hmm… kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu kini kasar kerana menempuhi kehidupan yang mencabar demi kita. Orang inilah yang tiap hari menguruskan keperluan kita. Orang inilah yangpaling rajin mengingatkan dan membebeli kita semata- mata kerana rasakasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah ertikan. Cubalah menatap wajah orang-orang yang kita cintai..sayangi itu… Ayah, Ibu, Suami, Isteri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya…

Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir perlahan-lahan saat menatap wajah mereka yang terlelap itu. Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang-kadang tertutupi oleh salah faham kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.
Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu akan tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan serta memenatkan mereka namun enggan mereka ungkapkan.Dan ekspresi wajah ketika tidur pun membantu untuk mengungkap segalanya.Tanpa kata, tanpa suara dia berkata… “betapa lelahnya..penatnya aku hari ini”. Dan penyebab lelah dan penat itu? Untuk siapa dia berpenat lelah Tak lain adalah KITA… ..
Suami yang bekerja keras mencari nafkah, isteri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabatyang telah menemani hari-hari suka dan duka bersama kita. Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan rasa terharu seketika menerpa jika mengingat itu semua. Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok mereka “orang-orang terkasih itu” tak lagi membuka matanya, untuk selamanya … “
Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Dilema Golongan Mahasiswa Masa Kini


Dalam kesibukan menelaah buku bagi menghadapi Peperiksaan Akhir Semester yang bakal dihadapi pada beberapa minggu lagi, saya sempat mengambil kesempatan untuk mengunyah beberapa artikel tulisan beberapa professor iaitu penulisan dari Prof. Tan Sri Dzulkifli Abdul Razak ialah Naib Canselor USM mengenai “Pendidikan: Mencari Kebenaran” dan penulisan daripada Professor A. Murad Merican, Pensyarah UTP mengenai “Universiti Kita Ketandusan Idea”.
Penulis berasa terpanggil untuk menulis artikel yang bertajuk “Dilemma Golongan Mahasiswa”.
Walaupun masih tertalu muda untuk mengasah pena, namun tidak salah rasanya untuk penulis memuntahkan pendapat bagi santapan golongan muda khususnya mahasiswa yang berfungsi sebagai serampang dua mata;
Sebagai membuka minda masyarakat dan sekali gus mengeluarkan pendapat daripada terus dibiarkan menjadi perkasam dalam pemikiran.

Siapa Dia Mahasiswa?

Mahasiswa seperti yang diketahui umum adalah panggilan orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di universiti atau perguruan tinggi.
Mahasiswa Universiti tempatan kita rata-rata berusia 18 hingga 25 tahun.
Mereka termasuk dalam kategori belia menurut Akta Pertubuhan Belia 2007 yang menyatakan bahawa Belia merupakan mereka yang berumur diantara 15 hingga 40 tahun.
Di negara luar, mereka dilayan seperti orang dewasa yang lain.
Akan tetapi belia akan kehilangan beberapa hak yang dinikmati oleh belia yang lain secara automatik sebaik sahaja mendaftakan diri sebagai mahasiswa.
Antara hak-hak tersebut ialah melibatkan diri dalam parti politik. Seksyen 15(5)(a) Akta Universiti & Kolej Universiti 1971 yang berbunyi:
15(5) Tiada seorang pun pelajar Universiti dan Tiada pertubuhan, badan atau kumpulan pelajar Universiti yang ditubuhkan oleh, dibawah atau mengikut Perlembagaannya, boleh menyatakan atau melakukan apa-apa jua yang boleh semunasabahnya ditafsirkan sebagai menyatakan sokongan kepada atau simpati dengan atau bangkangan terhadap Mana-mana parti politik sama ada di dalam atau di luar Malaysia.
Cabaran Mahasiswa Kini
Pada masa ini, ramai orang menganggap golongan mahasiswa tidak mempunyai kepedulian politik dan isu semasa.
Berbanding dengan mahasiswa zaman 1960-an dan 1970-an, memang mahasiswa pada hari ini nampak lebih akur dengan pihak berkuasa.
Golongan mahasiswa kini turut menghadapi pelbagai cabaran yang rumit.
Hal ini termasuklah sistem pendidikan kita yang caca merba; ekonomi upah rendah; polarisasi kaum; penolakan terhadap konsep berkhidmat untuk masyarakat; dan kekurangan pemimpin muda yang beribawa.
Kemelut melanda demokrasi kita sejak 1980-an di samping cengkaman pemerintahan autoritarian telah menyebabkan ramai anak muda negara kita sinis, malah kecewa dengan politik.
Berikutan kurangnya saluran sesuai untuk mereka menyuarakan pandangan mereka, menerusi undang-undang seperti Akta Universiti dan Kolej Universiti serta akta 174 melemahkan lagi golongan yang sepatutnya menjadi penggerak politik semula jadi.
Itulah sebabnya mengapa mereka bersikap tidak kisah bermaharajalela.
Lebih menyedihkan lagi ialah kekurangan pemimpin muda yang beribawa dan kesedaran politik dalam kalangan generasi muda Malaysia.
Masalah kepimpinan muda ini berpunca daripada kempimpinan pemuda parti politik yang sering menjadi alat bagi wang dan kuasa, bukannya platform aktivivisme tulen.
Kurangnya kesedaran politik pula menghalang generasi muda menjadi suara dan kuasa dalam politik negara.
Dengan cabaran-cabaran ini, kita boleh memahami mengapa ramai yang pesimis terhadap masa hadapan golongan mahasiswa kita.
Tetapi, janganlah perkecilkan potensi mereka untuk membuat perubahan.
Mari kita ungkap, mari kita singkap kembali sejarah perubahan yang telah dibawakan oleh mahasiswa.

Mahasiswa Dalam Lipatan Sejarah

Dalam sejarah, mahasiswa dari pelbagai negara mempunyai peranan penting dalam sejarah sesuatu negara.
Fakta kes pertama, mahasiswa di negara kita dalam menyertai demonstrasi Baling pada tahun 1974 dimana melibatkan ribuan mahasiswa berhimpun bagi menyertai demonstrasi tersebut.
Pada Ketika itu satu gerakan pelajar telah menyatakan pandangan dan bantahan ke atas apa yang berlaku.
Dalam sejarah, gerakan inilah merupakan gerakan terbesar dan perhimpunan ini dinamakan sebagai ‘Perhimpunan Mahasiswa Raksasa’.
Akta Universiti dan Kolej Universiti (AUKU) telahpun dirangka awal pada tahun 1971 tetapi peruntukan undang-undang dalam akta tersebut tidak cukup ketat bagi mengekang gerakan mahasiswa pada ketika itu dan ia merupakan salah satu alasan untuk meminda akta tersebut pada tahun 1975.
Dalam sejarah Negara Indonesia pula, Mahasiswa telah mencatatkan sejarah dalam demonstrasi mendesak kepimpinan Presiden Soeharto untuk menurun tahta.
Demonstrasi demi demonstrasi yang dianjurkan oleh mahasiswa dan penawanan bangunan parlimen akhirnya berjaya menumbangkan regim kuku besi Soeharto dan akhirnya pada 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya tunduk kepada kehendak rakyat dengan perletakan kuasa selepas memerintah Republik Indonesia selama 32 tahun.
Parti Rakyat Demokratik (PRD) yang ditubuhkan oleh mahasiswa dan anak muda tekah memainkan peranan penting dalam menjatuhkan Arwah Soeharto.
PRD turut bertanding dalam pilihanraya 1999.
Di negara yang terkenal dengan produk-produk seperti LG, Hyundai, samsung dan drama romantis oleh rakyat di negara kita iaitu Korea Selatan, Mahasiswa di negara tersebut juga memainkan peranan mereka dalam peristiwa di Gwangju pada 30 tahun yang lalu.
Di ManaJeneral Chun Doo Hwan merampas tampuk kuasa melalui dan mengamalkan pemerintahan diktator.
Kira-kira 100 orang mahasiswa dari Universiti Kebangsaan Chonnam berarak menuju ke pintu pagar universiti tersebut yang di kepung oleh tentera.
Mereka membantah tindakan tentera mengambil alih universiti tersebut.
Peristiwa kebangkitan Gwangju menjadi inspirasi kepada pergerakan prodemokrasi di seluruh negara.
Presiden Akhirnya Jeneral Chun Doo Hwan akhirnya terpaksa tunduk kepada Kebangkitan rakyat dan Presiden Roh Tae Woo mengambil alih tempat tersebut.
Dalam melihat hal ini, penulis suka untuk merujuk kepada sebuah buku lama yang diterbitkan pada 1969 oleh Prof Faeur dari Universiti Toronto dalam bukunya The Conflict of Genegration – The Character and Significant of the Student Movement, menyatakan bahawa protes dan bantahan yang ditunjukkan oleh mahasiswa adalah hasil daripada ‘konflik generasi’ atau Generational Conflict.
Hal ini berpunca daripada perasaan benci atau menyampah ‘Generasi Baru’ kepada ‘Generasi Lama’, yang disifatkan tidak bermoral, peradaban yang rosak, lapok, penyalah gunaan kuasa, tidak bertanggungjawab dan melakukan penindasan serta kotor.
Istilah ‘Generasi di sini adalah sesuatu yang subjektif, dimana ia mungkin boleh merangkumi universiti, pihak berkuasa, kerajaan atau mungkin masyarakat itu sendiri yang telah rosak peradabannya.
Menghayati sejarah bererti bukan disimpan di dalam peti muzium untuk kenang-kenangan, tetapi sejarah adalah coretan untuk membina sesuatu yang lebih baik pada masa akan datang.
Mahasiswa seharusnya berasa jelek dengan perkataan ‘senyap’.
Bersikap apologia dengan ‘berdiam diri’ dan ‘berpeluk tubuh’ melihat kecelakaan berlaku kepada umat.
Kalau mahu diteruskan dengan sikap itu, jangan sama sekali mengambil amanah sebagai mahasiswa.
Kekuatan kepimpinan negara masa hadapan adalah terletak ditangan generasi Mahasiswa pada hari ini.
Jika Mahasiswa yang dihasilkan hanya bersifat ‘Ayam Daging’ yang bersedia disembelih pada bila-bila masa, pasti negara juga akan bersedia dilapah pada masa akan datang.
Dalam aspek ini, penulis bersetuju dengan apa yang diungkapkan oleh Prof Diraja Ungku Aziz, Kepimpinan akan lahir daripada mahasiswa yang ‘terpelajar’ dan mencabar.
Secara tuntasnya, Mahasiswa merupakan orang yang intelek dan mempunyai ‘critical thinking’ dalam memikirkan keadaan dan isu semasa kini.
Dalam mendepani zaman, kita tidaklah seharusnya meninggalkan sejarah yang lalu di mamah usia.
Kita unggkap kembali peranan mahasiswa dan golongan belia dalam proses pendemokrasian negara luar, proses menuntut keadilan sejagat dan juga keadilan sosial.
Sememangnya penulis akui bahawa peranan mahasiswa amat penting bagi memacu negara kearah negara yang maju, moden dan berpendapatan tinggi.
Penulis ingin memetik kata-kata Professor Doktor Yusuf Qardhawi, sarjana pemikir tersohor mengenai belia, “Apabila kita hendak melihat wajah negara pada masa hadapan,lihatlah generasi mudanya pada hari ini, sekiranya golongan muda pada hari ini adalah daripada kalangan yang berakhlak dan berhemah tinggi, tentunya negara kita pada masa hadapan menjadi sebuah negara yang aman makmur “بَلْدَةٌُطَيِّبَةٌوَرَبٌّ غَفُوْرٌ”, tetapi jika keadaan adalah sebaliknya, maka bersedialah untuk berhadapan dengan kemungkinan buruk yangakan berlaku.”

Sumber : ILoveIslam

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...